Minggu, 03 April 2016

Filsafat

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar.[1] Filsafat tidak di dalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir, dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran, dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Etimologi

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".

Klasifikasi

Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budayabahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun.
Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis, dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah, dan menurut latar belakang agama.
Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan filsafat Timur Tengah. Sedangkan menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.

Epistemologi

Mengkaji tentang hakikat, dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.
Skeptisisme adalah posisi yang mempertanyakan kemungkinan yang benar-benar membenarkan kebenaran apapun. Argumen regresi, masalah mendasar dalam epistemologi, terjadi ketika untuk benar-benar membuktikan pernyataan apapun, pembenaran itu sendiri perlu didukung oleh pembenaran lain.
Rasionalisme adalah penekanan pada penalaran sebagai sumber pengetahuan. Empirisme adalah penekanan pada bukti pengamatan melalui pengalaman indrawi atas bukti lain sebagai sumber pengetahuan.
Parmenides (fl. 500 SM) berpendapat bahwa tidak mungkin untuk meragukan dari berpikir yang benar-benar terjadi. Tapi berpikir harus memiliki objek, oleh karena itu sesuatu yang melampaui pemikiran benar-benar ada.

Aksiologi

membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yang terdiri dari etika dan estetika.

filsafat dalam PLS

Konsep PLS
Alasan pentingnya PLS
1.   kemajuan IPTEK
2.   Era Pasar bebas/persaingan bebas
3.   industralisasi
4.   modernisasi
Yang dibahas dalam filsafat PLS/PNF
1.   Makna pendidikan
2.   Manusia sebagai objek dan subjek pendidikan
3.   Posisi PLS / PNF dalam pendidikan nasional
Makna pendidikan
          Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa, dan negara.
Makna filsafat PLS
          Usaha menghimpun gagasan/pemikiran mengenai Pendidikan Luar Sekolah (PNF) yang hasilnya berupa teori tentang PLS/PNF untuk dijadikan landasan pelaksanaan program PLS/PNF
Aliran filsafat pendidikan
1.   Empirisme (Jhon locke 1632-1704)
Berpendapat bahwa anak lahir seperti kertas kosong atau meja berlapis lilin (tabularasa) sehingga dapat ditulis diatasnya seperti yang diinginkan. Pandangan ini memandang pedidikan/lingkungan yang menentukan kepribadian anak.
2.   Nativisme (Arthur, Shopenhauer 1788-1860)
Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir telah membawa kodratnya masing-masing sehinga lingkungan /pendidikan tidak berpengaruh terhadap pembentukan anak. Pendidikan atau lingkungan harus sesuai dengan dengan kodrat anak itu sehingga kodrat anak itu dapat terwujud lebih cepat dan bersinar .
3.   Naturalisme
Berpendapat bahwa semua dlaam keadaan baikpada waktu datang dari tangan tuhan atau sang pencipta. Tetapi semua menjadi buruk ditangan manusia. Dia berpendapat bahwa anak sebaiknya dibiarkan saja (jangan di didik) biarkan berkembang sesuai kodratnya
4.   Konvergensi
Berpendapat bahwa pembawaan (kodrat) dan lingkungan sama sama berpengaruh dalam pembentukan dan pertumbuhan anak. Teori dalam aliran ini juga berpendapat bahwa pembawaan dan pendidikan harus beriringan menuju satu titik yang sama sehingga perkembangan anak dapat maksimal.
Makna pendidikan informal, non formal, dan formal
*      Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan
*      Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara bersturktur dan berjenjang
*      Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar